Sabtu, 11 Juli 2009
Matematika Gaji dan Logika Sedekah
From: ntRie
Date: Monday, July 2, 2007 4:58 PM
Subject: matematika gaji dan logika sedekah
Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.
Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.
Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.
Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bias mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.
"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."
"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"
"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."
"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi."
Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"
"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.
"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."
Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?
"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.
"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."
Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.
Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.
“Terus, gimana caranya Mas, agar bias menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.
“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”.
Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan.
Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan. Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)
Taken from : www.eramuslim.com
Date: Monday, July 2, 2007 4:58 PM
Subject: matematika gaji dan logika sedekah
Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.
Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.
Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.
Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bias mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.
"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."
"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"
"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."
"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi."
Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"
"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.
"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."
Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?
"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.
"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."
Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.
Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.
“Terus, gimana caranya Mas, agar bias menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.
“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”.
Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan.
Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan. Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)
Taken from : www.eramuslim.com
Label: Cerpen, Favorite, Friendster
Senin, 06 April 2009
Lanjutan Mendidik anak di rumah
2. Anak dimanja
Bapak ibu orang tua yang saya hormati,
Orang tua zaman sekarang cenderung memanjakan anak. Karena orang sekarang sudah tidak rekoso (hidup susah) seperti tahun 70 - 80 an. Orang sekarang makmur, semua fasilitas ada, zaman itu tranportasi saja sulitnya minta ampun, sekarang tranportasi umum bahkan kurang laku, karena banyaknya orang kaya. Sekarang hampir 80 % - 90% penduduk di Pulau Jawa ini punya yang namanya sepeda motor.
Karena peningkatan kemakmuran / perubahan tingkat kehidupan yang lebih baik inilah anak oleh orang tua tidak diminta untuk membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah, sekedar menyapu, mencuci, bahkan untuk melipat selimut saja mungkin anak sekarang itu malas. Nah inilah sebenarnya mendidik yang kurang betul, jadi si anak ya harus dididik untuk mandiri. Kalau perlu menyapu, mencuci pakaian sendiri, dilatih masak yang mudah-mudah (dadar telur), buat mi, pentingnya apa, jika orang tua / pembantu tidak ada mereka bisa sendiri, tidak harus jagakan orang lain.
Saya sebagai seorang guru pernah bertanya kepada orang tua siswa yang anaknya nakal, di rumah bagaimana Bu? anak saya itu ya pak di rumah sudah tidak saya suruh apa-apa, melulu sekolah saja, bahkan kalau mau pergi ke sekolah itu semua perlengkapan (pakaian, sepatu) saya siapkan, bahkan disuruh belajar jawabnya si anak belajarnya di sekolah, lah ini bapak ibu sekalian, namanya MEMANJAKAN ANAK, anak semakin tergantung, merasa apa-apa terpenuhi, akhirnya tidak mandiri, bahkan hasilnya nakal di sekolah.
Bapak ibu semuanya mendidik anak untuk mandiri, tidaklah semacam mengekploitasi anak, tetapi sekedar penerapan kemandirian. Kenyataan sekarang ini orang perempuan sekarang ini masak telur dadar / ceplok saja tidak bisa. Ya mementingkan sekolah, belajar dan belajar, tetapi hidup mandiri juga penting.
Perlunya wawasan orang tua tentang bacaan-bacaan mendidik anak yang benar, jangan terlalu dikerasi jangan terlalu dimanja, beri pengertian-pengertian, jika begini nanti jadinya begitu, jika begitu jadinya begini dst.
Selamat menjadi orang tua yang sukses. Saya juga mohon doa dari bapak ibu sekalian.
Bapak ibu orang tua yang saya hormati,
Orang tua zaman sekarang cenderung memanjakan anak. Karena orang sekarang sudah tidak rekoso (hidup susah) seperti tahun 70 - 80 an. Orang sekarang makmur, semua fasilitas ada, zaman itu tranportasi saja sulitnya minta ampun, sekarang tranportasi umum bahkan kurang laku, karena banyaknya orang kaya. Sekarang hampir 80 % - 90% penduduk di Pulau Jawa ini punya yang namanya sepeda motor.
Karena peningkatan kemakmuran / perubahan tingkat kehidupan yang lebih baik inilah anak oleh orang tua tidak diminta untuk membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah, sekedar menyapu, mencuci, bahkan untuk melipat selimut saja mungkin anak sekarang itu malas. Nah inilah sebenarnya mendidik yang kurang betul, jadi si anak ya harus dididik untuk mandiri. Kalau perlu menyapu, mencuci pakaian sendiri, dilatih masak yang mudah-mudah (dadar telur), buat mi, pentingnya apa, jika orang tua / pembantu tidak ada mereka bisa sendiri, tidak harus jagakan orang lain.
Saya sebagai seorang guru pernah bertanya kepada orang tua siswa yang anaknya nakal, di rumah bagaimana Bu? anak saya itu ya pak di rumah sudah tidak saya suruh apa-apa, melulu sekolah saja, bahkan kalau mau pergi ke sekolah itu semua perlengkapan (pakaian, sepatu) saya siapkan, bahkan disuruh belajar jawabnya si anak belajarnya di sekolah, lah ini bapak ibu sekalian, namanya MEMANJAKAN ANAK, anak semakin tergantung, merasa apa-apa terpenuhi, akhirnya tidak mandiri, bahkan hasilnya nakal di sekolah.
Bapak ibu semuanya mendidik anak untuk mandiri, tidaklah semacam mengekploitasi anak, tetapi sekedar penerapan kemandirian. Kenyataan sekarang ini orang perempuan sekarang ini masak telur dadar / ceplok saja tidak bisa. Ya mementingkan sekolah, belajar dan belajar, tetapi hidup mandiri juga penting.
Perlunya wawasan orang tua tentang bacaan-bacaan mendidik anak yang benar, jangan terlalu dikerasi jangan terlalu dimanja, beri pengertian-pengertian, jika begini nanti jadinya begitu, jika begitu jadinya begini dst.
Selamat menjadi orang tua yang sukses. Saya juga mohon doa dari bapak ibu sekalian.
Jumat, 03 April 2009
Mendidik anak di rumah
Bapak ibu orang tua yang saya hormati.
Sekarang mendidik anak di rumah gampang-gampang susah, kadang bagaikan makan buah simala kama, diketati nanti dikira orang tua kolot di los nanti anak yang jadi korban pergaulan yang negatif.
Contoh-contoh mendidik anak yang kurang baik, sehingga di sekolah menjadi anak yang nakal (berdasarkan pengalaman guru)
1. Anak dididik terlalu keras.
Sekarang mendidik anak di rumah gampang-gampang susah, kadang bagaikan makan buah simala kama, diketati nanti dikira orang tua kolot di los nanti anak yang jadi korban pergaulan yang negatif.
Contoh-contoh mendidik anak yang kurang baik, sehingga di sekolah menjadi anak yang nakal (berdasarkan pengalaman guru)
1. Anak dididik terlalu keras.
Anak melakukan kesalahan diberi hukuman dengan disabet dengan sapu (mungkin sapu lidi), dipukul pakai tangan, pakai kaki, dan ini diperlakukan sejak kecil (SD). Akibatnya di SMP anak menjadi kebal terhadap nasehat, terhadap hukuman lagi. Sehingga di sekolah menjadi anak yang nakal, teman diremehkan dalam kekuatan fisik, maka dia berani mukul temannya, sewenang-wenang dengan teman, bahkan jadi pemimpin tapi pemimpin anak nakal yang suka berkelahi.
Karena anak menjadi frustasi, putus asa begini salah begitu salah, takut dihukum keras lagi, menjadi anak jadi semakin nekat, berani dengan orang tua, berani dengan guru di sekolah, apalagi teman sekolah.
Hal ini yang repot sebenarnya siapa, jika di sekolah ya guru, jika di rumah ya orang tua.
Anak menjadi malas belajar, suka bolos, di kelas hanya mengganggu teman cari perhatian, cenderung kurang pandai.
Utamakan mendidik anak dengan memberi pengertian, menasehati dengan pelan, tunjukkan contoh-contoh jika anak tidak memperhatikan nasehat orang tua, beri pujian jika mendapat nilai baik, beri hadiah jika ada walaupun dengan sesuatu yang ringan / murah, tapi jangan berlebih.
Karena anak menjadi frustasi, putus asa begini salah begitu salah, takut dihukum keras lagi, menjadi anak jadi semakin nekat, berani dengan orang tua, berani dengan guru di sekolah, apalagi teman sekolah.
Hal ini yang repot sebenarnya siapa, jika di sekolah ya guru, jika di rumah ya orang tua.
Anak menjadi malas belajar, suka bolos, di kelas hanya mengganggu teman cari perhatian, cenderung kurang pandai.
Utamakan mendidik anak dengan memberi pengertian, menasehati dengan pelan, tunjukkan contoh-contoh jika anak tidak memperhatikan nasehat orang tua, beri pujian jika mendapat nilai baik, beri hadiah jika ada walaupun dengan sesuatu yang ringan / murah, tapi jangan berlebih.
Langganan:
Postingan (Atom)